Sabtu, 23 Januari 2010

PEDULI GEMPA HAITI

- Sebuah Niat Baik Dapat Menghapus Bencana - Salurkan Kebajikan dan kepedulian anda melalui Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia; Kepada saudara-saudara kita yang sedang tertimpa bencana Gempa Haiti - No Rek BCA 865 011 6969 - Cabang Pantai Indah Kapuk II a/n Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia - http://www.tzuchi.or.id/

Kamis, 24 Desember 2009

Kain Sarung Batik yang Diminati Jepang


Cirebon tak hanya dikenal udangnya saja. Batik khasnya juga bisa menggaet minat Jepang.

Selasa, 23 September 2008, 14:58 WIB

Hadi Suprapto, Elly Setyo Rini



Cirebon tak hanya punya udang. Batik Cirebon juga menjadi andalan. Dengan ciri khas warna menyala, batik Cirebon terlihat berbeda dengan batik Yogyakarta maupun Solo. Kebanyakan batik sogan ini berwarna gelap dan dinamis. Mirip dengan batik pesisir utara lainnya, seperti Pekalongan, Lasem, dan Madura.

Lihat saja, batik Tiga Puteri. Kain sarung yang dibatik, menjadi andalannya. Batik ini khas sentuhan tangan-tangan perajin Cirebon.

Adalah Agus Purwanto bersama istrinya, Cony Kurnaeni, yang merintis usaha ini. Agus merintis sejak 11 tahun silam. Sejak krisis moneter yang melanda Indonesia pada 1997.

Ia terpaksa banting setir dari usaha kontraktor ke usaha batik. “Awalnya istri saya coba-coba bawa batik Cirebon ke Jakarta,” kisahnya, kepada VIVAnews, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Batik dengan merek “Tiga Puteri” yang dibawanya itu berasal dari keluarga atau kerabat yang sudah lebih dulu terjun ke dunia batik. Itu pun tak banyak, hanya 20-50 potong. Tak lama kemudian, batik Cirebon Agus peminatnya mulai banyak.

Perkembangan bisnis batik Agus dan Cony membuatnya mempekerjakan lima pembatik, setelah tahun kedua. Sekarang, mereka mempunyai 20 pembatik.

Bisnis batik Agus mampu mengantongi omset hingga Rp 100 juta per bulan, dengan persentase keuntungan 20 persen. Produk andalan Agus, kain sarung batik, dibandrol dengan harga Rp 5 juta per kain sarung.

Tingkat penjualan batik mereka semakin meningkat sejak setahun terakhir ini menempati gerai di Grand Indonesia, Jakarta.

Ternyata, batik Cirebon Agus mampu menyita perhatian turis Jepang untuk memborongnya. Ketertarikan turis Jepang pada batik Cirebon sudah berlangsung sejak tahun 1970-an. “Orang tua kami yang menceritakan dan mewariskan pelanggan turis Jepang,” tuturnya.

Agus tak tahu persis mengapa turis Jepang menyukai batik Cirebon. Ia hanya menduga hal itu terkait dengan sejarah orang Jepang yang pernah tinggal di Indonesia.

Sayangnya, Agus mengakui selama ini transaksi penjualan ke Jepang tidak menggunakan dokumen ekspor, tapi melalui jasa pos. Selain karena volume transaksi yang kecil, sebagian besar pembelian dilakukan langsung turis Jepang ke gerai miliknya.

“Orang Jepang suka membeli kain panjang dengan kualitas bagus untuk dibuat pakaian atas, terutama untuk busana musim panas,” kata Agus.

Hampir satu dekade menggeluti bisnis batik Cirebon, Agus mengakui adanya persaingan ketat dengan motif batik cetak (print). Padahal, menurut dia, batik cetak tidak termasuk batik, hanya tekstil yang bermotif batik.

Batik, kata dia, hanya ada dua macam, batik tulis dan batik cap. Jika batik cetak motif batik dalam sehari bisa diproduksi ribuan lembar kain. Batik cap baru selesai setelah dua minggu hingga satu bulan per lembar. Sedangkan batik tulis bisa mencapai tujuh bulan.

Jika Anda berminat dengan batik kain sarung milik Agus, silahkan datang langsung ke Grand Indonesia Shopping Town, Jalan MH Thamrin Nomor 1 Jakarta.

• VIVAnewshttp://bisnis.vivanews.com/news/read/723-kain_sarung_batik_yang_diminati_jepang


Mudah mudahan dengan membaca artikel ini , bagi warga Sumut bisa lebih mandiri , untuk mengembangkan kreativitas kerajinan daerahnya masing - masing .

Memulai Usaha Dari Sebuah Gagasan..!

Bagi mereka yang berniat memulai usaha, pada umumnya masalah pertama yang dihadapi adalah pertanyaan tentang bidang usaha apa yang sebaiknya dijalankan.

Pertanyaan yang kelihatan remeh ini, sesungguhnya mempunyai bobot yang besar sekali artinya dan amat menentukan masa depan perusahaan yang akan didirikan tersebut. Bahkan, kemungkinan besar juga menentukan masa depan sipengusaha sendiri. Jadi, bagaimanakah cara yang paling tepat untuk menentukan bidang usaha ?

Menurut logika, sebuah usaha yang berpeluang untuk berjalan dengan lancar adalah usaha yang tingkat persaingannya kecil, tetapi tingkat kebutuhan pada konsumennya tinggi. Tentu dengan asumsi bahwa faktor-faktor penentu lainnya sudah terpenuhi. Untuk bisa menekan tingkat persaingan sampai sekecil mungkin, maka seyogyanya produk yang akan dijual merupakan produk yang mempunyai sifat-sifat orisinil, belum pernah dibuat orang lain, atau bila produk itu berupa produk yang sudah ada sebelumnya, sebaiknya mempunyai nilai tambah yang tidak dimiliki oleh produk pesaing.

Banyak kejadian memperlihatkan bahwa kecenderungan orang untuk memulai usaha adalah dengan mengikuti trend saat tertentu. Misalnya, kalau sekarang banyak orang mendirikan ruko (rumah-toko) , maka dengan anggapan usaha yang diminati banyak orang itu pasti menguntungkan, lalu beramai-ramai ikut mendirikan ruko. Pola berpikir seperti ini terlalu menggampangkan, seakan-akan menyamakan trend bisnis dengan trend mode. Dibidang mode, kalau saat ini sedang digemari potongan rambut crew-cut (potongan pendek) misalnya, tidak ada masalah bagi siapa saja untuk meniru. Akan tetapi, kalau kita meniru bidang usaha yang sudah begitu banyak orang lain menjalankannya, berarti kita terjun kedalam suatu lahan yang sudah penuh sesak dengan persaingan. Sulit untuk kita bisa berkembang dalam situasi yang demikian, apalagi bila kita pendatang baru yang sudah “kesiangan” (terlambat).

Sejak tahun-tahun 1970-an, pola “ngikut trend” ini banyak dilakukan orang pada bidang-bidang yang segera menjadi jenuh, seperti mendirikan theater, klub malam, taksi, radio swasta niaga, diskotik, mendirikan apartemen, RSS (rumah sangat sederhana), wartel (warung telekomunikasi) dan lain-lain.

Di bidang finansial bahkan menjadi mode bagi sementara orang baik pengusaha maupun bukan, untuk terjun bermain valas (valuta asing), bursa saham bahkan bursa komoditi. Tidak sedikit mereka yang pengetahuannya terbatas tentang bidang-bidang tersebut ikut-ikutan bermain, lalu tiba-tiba, tanpa mengerti sedikitpun tentang alasannya, uangnya dinyatakan amblas tidak bisa dicegah lagi. Kejadian seperti ini terlalu mengerikan untuk dialami oleh setiap calon wiraswastawan yang punya idealisme.

Alex S. Nitisemito dalam bukunya “Memulai Usaha Dengan Modal Kecil”, memberikan contoh yang bagus tentang seorang pemilik kebun apel yang pada suatu hari menemukan buah apel yang jatuh ketanah bekas dimakan burung. Karena buah apel tersebut ternyata berbau anggur, maka timbullah gagasannya untuk mendirikan usaha minuman sari buah apel.

Yang demikian itu merupakan ide orisinil. Bukan tiruan atau menjiplak ide orang lain. Henry Ford memulai usaha dengan gagasan untuk membuat mobil yang baik bagi masyarakat banyak dengan harga terjangkau, dan usahanya sukses. Begitu juga Bill Gates yang berangan-angan untuk “mengkomputerkan” seluruh dunia, ternyata melesat begitu cepatnya menjadi raja komputer sejagat.

Ide atau gagasan tidak selalu datang begitu saja tanpa disangka-sangka, sehingga orang tidak akan bisa mengetahui kapan ide itu akan datang. Jangan menunggu datangnya ilham, atau mengharapkan bisikan gaib melalui mimpi saat tidur. Ide harus dikejar, dipikirkan dan dicari. Ini suatu bukti yang menguatkan bahwa kewiraswastaan adalah “kerja otak” bukan “kerja otot”. Gagasan bisa datang dan terjadi kapan saja, maka kita harus selalu waspada. Seperti contoh di atas, pemilik kebun apel ada dalam keadaan waspada sehingga ia bisa mencetuskan sebuah ide besar berdasarkan sebuah kejadian kecil. Kalau tidak, ribuan buah apel bekas dimakan burung yang berjatuhan keatas tanah, tetap tinggal membusuk tanpa arti apa-apa bagi siapa pun.

Rusman Hakim
Pengamat Kewirausahaan
Email: rusman@gacerindo.com
Blog: http://rusmanhakim.blogspot.com
Group: gacerindo-club@yahoogroups.com
Mobile: 0816-144.2792

http://www.waralabaku.com/artikel_detil.php?aid=6

sumber: Gacerindo.com

SELAMAT HARI NATAL DAN TAHUN BARU 2010

Bisnis Sumut Mengucapkan :
" Selamat Hari Natal ( Bagi yang merayakan ) dan Tahun Baru 2010 "

" Dengan menumbuhkan semangat membangun Indonesia , menambah skill / kemampuan kita untuk kemandirian diri kita dan menumbuhkan kejujuran dari diri kita demi tujuan kebahagiaan orang banyak ,semoga Indonesia akan terus maju !!!

Salam ,

Bisnis Sumut

Jumat, 06 November 2009

Pemadaman Listrik secara bergilir terus berlanjut di Kota Medan

Kota Medan merupakan kota yg kita cintai , yang juga merupakan Kota Metropolitan ternyata sampai saat ini belum bisa mengatasi kekurangan Listrik , Pemadaman Listrik secara bergilir terus dilakukan Oleh PLN , bahkan satu hari bisa 2 sampai 3 kali sehari .

Keadaan ini sangat memprihatinkan terutama dikalangan Industri , Bisnis dan Investasi lokal dan luar Negeri , gimana Investasi mau masuk ke Sumut atau kota Medan ? bila Infrastruktur Listrik tidak memadai , begitu juga Jalan - jalan kecil , yg kurang diperhatikan pemerintah banyak yang rusak akibat tergenang air sewaktu hujan . dan banyak lagi infrastruktur yg kurang memuaskan bagi masyarakat .

Pemadaman listrik banyak terjadi disekitar Jl. Jambi dan sekitarnya , Jalan . Wahidin dan sekitarnya serta hampir diseluruh jalan - jalan kecil lainnya , kecuali lingkungan dekat Pejabat - pejabat penting serta Instansi penting lainnya ini jarang terjadi pemutusan aliran listrik .

mengapa bisa begitu ? kapan PLN bisa mengatasi kekurangan listrik ini ?, padahal ini sudah terjadi sangat lama / beberapa tahun yang lalu .

Bisnis Sumut

Hentikan Biaya Administrasi Tabungan karena Eksploitatif

Hentikan Biaya Administrasi Tabungan karena Eksploitatif

Medan, (Analisa)

Fakultas Ekonomi Universitas Sumatera Utara (FE-USU) mengharapkan seluruh bank di Sumatera Utara (Sumut) menghentikan praktik potongan biaya administrasi tabungan. Sebab, praktik ini merupakan tindakan eksploitatif terhadap penabung, khususnya penabung kecil.

Kepala daerah, baik gubernur maupun bupati/walikota juga diharapkan mengingatkan perbankan yang ada di daerahnya agar menghentikan praktik ini. Langkah itu merupakan bentuk perlindungan terhadap rakyatnya.

Dekan FE-USU, Jhon Tafbu Ritonga, menyampaikan pernyataannya itu kepada wartawan di Medan, Rabu (4/11). Jhon Tafbu didampingi Pembantu Dekan (Pudek) II, Fahmi Nasution Pudek III, Ami Dilham; dan Ketua Departemen Ekonomi Pembangunan, Wahyu A Pratomo.

Perbankan nasional harus menghentikan praktik eksploitasi terhadap penabung kecil ini. Praktik ini hanya menguntungkan penabung besar tegasnya.

Dijelaskannya, prinsip perbankan adalah intermediasi, yakni untuk menyimpan uang dan memberi pinjaman. Salah satu sumber keuntungan bank ialah selisih dari pengelolaan kredit.

Praktik Aneh

Karena itu, sangat aneh kalau perbankan mempraktikkan pemotongan biaya administrasi terhadap penabung. Bagaimana mungkin, mereka (perbankan) diberi kepercayaan, malah minta dibayar? Uang milik orang itupun kemudian bisa dikelolanya sebagai modal. Praktik ini tidak berdasar sama sekali ungkapnya geram dan miris.

Bagi penabung kecil, praktik eksploitatif ini sangat merugikan. Dengan jumlah tabungan yang minim, uang mereka tidak bertambah. Bahkan, jumlahnya menurun dan satu ketika bisa habis sama sekali.

Perbankan langsung memotong biaya administrasi dari jumlah tabungan, baru kemudian menerapkan bunga yang relatif kecil per tahunnya. Kalau jumlah tabungannya tidak ditambah, maka satu saat uang milik penabung akan habis urainya tentang praktik pemotongan biaya administrasi tabungan ini.

Tak cuma itu, sebenarnya nilai nyata (riil) uang penabung juga makin kecil karena antara lain adanya depresiasi mata uang tambahnya.

Sejauh yang diketahuinya, hanya perbankan di Indonesia pula yang menerapkan praktik ini. Perbankan Malaysia, ungkapnya mencontohkan, tidak melakukan praktik ini.

Kalau kita punya tabungan 10 Ringgit di perbankan Malaysia, maka uang itu tidak akan pernah hilang sampai kapanpun katanya membandingkan.

Sayangnya, menurut Jhon Tafbu yang dikenal sebagai pengamat ekonomi ini, pemerintah seperti tidak menyadari adanya praktik eksploitatif oleh perbankan terhadap penabungnya itu.

Keluarkan fatwa

Karena itu, sudah seharusnya pemerintah menghentikan praktik eksploitatif ini tegasnya. Dekan FE-USU ini juga mengimbau Dewan Syariah Nasional agar mengeluarkan fatwa haram terhadap praktik ini. Karena, praktik ini bernuansa ribawi terhadap umat Islam.

Dulu, ada fatwa haram terhadap bunga bank. Sekarang hendaknya Dewan Syariah Nasional juga mengeluarkan fatwa haram terhadap praktik potongan biaya administrasi ini pintanya.

Pemerintah daerah, dalam hal ini gubernur dan bupati/walikota juga bisa meminta perbankan menghentikan praktik itu di daerahnya masing-masing. Pejabat Bank Indonesia (BI) juga harus mengeluarkan peraturan agar praktik ini dihentikan oleh seluruh perbankan nasional.

Langkah yang dilakukan pemerintah, termasuk pemerintah daerah, dan Dewan Syariah Nasional ini semata-mata untuk melindungi rakyat kecil. Perbankan jangan lagi menunda-nunda menghentikan praktik ini selain secepatnya.

Kita sudah meminta mereka untuk menabung. Tapi pada kenyataannya justru diperlakukan seperti itu. Ini sungguh menyinggung keadilan ekonomi bagi rakyat kecil kritiknya pedas.

Mereka harus ingat, selama ini mereka hidup dari uang rakyat kecil, misalnya dana bantuan likuiditas Bank Indonesia (BLBI) saat krisis ekonomi dulu. Mayoritas penabung di Indonesia juga penabung kecil demikian Jhon Tafbu. (gas)

Sumber : http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=33894:hentikan-biaya-administrasi-tabungan-karena-eksploitatif&catid=466:05-november-2009&Itemid=222

" Benar juga ya , dulu sewaktu ada Tabungan Nasional ( TABANAS ) datang di sekolah - sekolah kurang lebih 30 tahun yg lalu , kalau kita nabung beberapa ribu saja , setahun atau 2 tahun kemudian uang kita akan bertambah banyak ( berlipat - lipat ) , tapi kalau sekarang menabung Rp.50.000,- atau Rp.100.000,- dan dibiarkan selama 1 tahun atau 2 tahun mungkin akan habis , karena biaya Administrasi yang cukup tinggi dan Bunga Bank yang rendah gimana ini? mungkin pemerintah musti memperhatikan Nasib para penabung kecil ya ?


Kamis, 15 Oktober 2009

UKM DI MEDAN IKUTI PAMERAN UKM DI PLAZA MEDAN FAIR

Rabu, 2009-10-14 14:23:20Wib
UKM DI MEDAN IKUTI PAMERAN UKM DI PLAZA MEDAN FAIR
undefined
Pameran Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang digelar Dinas Koperasi Sumatera Utara banyak diikuti oleh UKM di Medan. Salah satunya adalah roemah coklat. UKM yang memproduksi aneka penganan yang terbuat dari coklat.

Untuk lebih memperkenalkan produknya ke masyarakat, Roemah Chocolate yang memproduksi aneka jenis coklat ambil bagian dalam ajang pameran produk-produk usaha kecil dan menengah (UKM), yang digelar Dinas Koperasi dan UKM Sumut di Atrium Plaza Medan Fair.

Indah Harahap selaku pemilik Roemah Chocolate mengaku, ia tertarik membuka stan pada pameran itu karena ini merupakan kesempatan untuk mengembangkan pasar. Ia juga mengaku selalu aktif mengikuti berbagai ajang pameran produk UKM yang diselenggarakan berbagai instansi hingga ke luar daerah.

Saat dijumpai di stannya, Indah yang masih tercatat sebagai mahasiswi di Universitas Sumatera Utara (USU) ini mengaku belum lama ini ia juga telah mengikuti pameran di Nanggroe Aceh Darussalam. “Kemarin waktu ikut pameran di Aceh bersama Dinas Koperasi dan UKM, produk kita banyak yang laku. Bahkan seluruh stok yang dibawa habis terjual. Penjualan kita waktu itu rata-rata Rp 1 juta perhari selama pameran,” katanya, Rabu (14/10).

Pada pameran di Atrium Plaza Medan Fair kali ini, Indah juga optimis bisa memasarkan produk coklatnya secara maksimal. “Buktinya, pada pameran hari pertama ini (Selasa–red), baru saja buka selama dua jam omset penjualan kita sudah mencapai Rp 500.000. Dan bila pengunjung terus ramai seperti ini, saya yakin omset penjualan di Medan bisa lebih tinggi dari pameran di Aceh,” ujarnya.

Indah bercerita, bisnis Roemah Chocolate ini ia rintis sejak 3 tahun silam. Modal awalnya pun sangatlah minim, yakni hanya Rp 50.000. “Awalnya saya memproduksi permen coklat di rumah. Produk yang sudah jadi kemudian saya pasarkan kepada teman-teman di kampus seharga Rp 1.000 per potong. Alhamdulillah, dagangan saya selalu habis sehingga modal saya terus bertambah. Bisnis ini saya lakukan karena memang saya juga penggemar coklat,” katanya.

Seiring dengan waktu dan kegigihannya dalam berusaha, usaha yang digeluti Indah ini pun terus berkembang. Ia juga telah membuka workshop-nya yang berada di Jalan Karya Wisata Ujung, Kompleks Taman Tenera Indah, Blok C No 18 Medan. Berbagai kegiatan dan arena pameran produk UKM aktif diikutinya. Produksi coklatnya pun kian beragam. Permen coklat tetap menjadi produk andalannya, namun kini cita rasanya makin beragam, mulai dari coklat isi blubbery yang manis-manis asam, rasa strobery, rasa kacang, mint dan rasa biscuit dengan bentuk yang unik dan menarik. Selain itu, ia juga memproduksi cake coklat, buah segar yang dibalut coklat dan lainnya dengan aneka rasa pula.
http://www.pemkomedan.go.id/news_detail.php?id=4053